This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Jumat, 29 Juni 2012

Rabithah Cinta - Novel

Buah tangan dari seorang penulis yang mempunyai nama Afifah Afra ini saya dapatkan ketika ada sebuah bazar buku yang diadakan di kampus saya. Bermula ketik ketertarikan saya melihat sampul dan kata-kata pada cover depan buku ini, saya pun memutuskan membeli buku ini. Terus terang saya sangat menyukai cerita yang ada suguhan perjuangan, kesetiaan dan cita... (romantiisss,,haha).

Novel ini mengajarkan kita bagaimana caranya menjadi seorang yang profesional dalam melaksanakan setiap tanggung jawab yang dibebankan kepada kita, bagaimana cara mencintai dan mensyukuri setiap keadaan yang diberikan Tuhan serta menjaganya, kemudian novel ini juga mengajarkan bagaimana kestiaan dan pengorbanan dengan sepenuh jiwa demi orang yang di cintai.

 Sekarang kita akan coba membuka sedikit tentang cerita dalam novel ini. Novel ini dibuat dengan segi deskriptif oleh penulisnya dimana dia sangat detail dalam menggambarkan sebuah latar atau tempat kejadian, contohnya dia ada menuliskan bagaimana sebuah rumah yang berukuran tipe 36, lengkap dengan bagian2 nya, atau juga ketika dia menjelaskan bangunan dari sebuah kantor yang menyihir saya serasa berada diruangan itu, mengikuti setiap alur cerita yang terjadi.

 Novel ini menceritakan tentang seorang wanita yang mempunyai keinginan bersuamikan seorang petani, petani disini artinya petani dalam hal kebaikan, yang senantiasa berjuang ntuk membantu orang-orang yang memang membutuhkan pertolongan, Jodoh memang berada di tangan Allah SWT, Tuhan yang Maha Kuasa. Dia pun bersuamikan seorang dokter yang otomatis merupakan sebuah profesi yang mulia dalam menanam amal kebajikan, menolong orang-orang yang memerlukan.

 Intrik terjadi ketika sang wanita, yang di novel ini ditulis dengan nama Syakilla atau Illa mendapatkan perkembangan yang sangat pesat di bidang HRD yang tengah digelutinya, harus memilih mengikuti sang suami Dokter Riyan yang akan bertani menanam kebaikan di suatu daerah atau tetap tinggal di sebuah kota besar dalam mengembangkan bisnisnya. Dia bingung karena tidak tanggung-tanggung, sang suami diangkat menjadi PNS di daerah yang saat itu sedang terjadi konflik, Bumi Cenderawasih, Papua.

Sebagai seorang istri yang baik dan penurut dengan suami, walaupun sempat terjadi semacam perdebatan tentang keputusan ini, akhirnya Illa mau tidak mau harus memboyong dirinya dan anaknya yang baru lahir untuk mengikuti tugas bertani sang suami.

Dihadapkan terhadap sebuah kondisi tempat yang sangat asing ditambah lagi dengan kejadian pemberontakan yang saat itu terjadi membuat siapa saja yang berada di posisi itu agak bergidik takut, namun sebagai seorang yang profesional yang harus mengabdi demi sumpah yang diambil maka rasa takut itu pun dibuang jauh-jauh, tak menghiraukan bahaya yang ada di depan mereka. Situasi semakin bertambah mengharukan ketika Syakilla yang sedang hamil tua dan hampir melahirkan mendapat kabar bahwa sang suami di culik oleh para pemberontak. Tidak sampai disitu, hal yag lebih pahit trjadi ketika ada berita yang mengabarkan bahwa sang suami telah meninggal dunia. Segala upaya tetap dilakukan oleh Illa demi mendapatkan kepastian bahwa sang suami masih hidup dengan segala kesabaran dan ke salihan yang dia miliki, namun bagaimanakah Illa ketika disaat itu kekasih lamanya pada masa silam kembali hadir dengan membawa sebuah cinta baru bagi Syakilla dan anak-anaknya?

Untuk Ending dari cerita ini, entah kenapa, mungkin diri saya yang salah, saya kembali tidak menemukan sesuatu yang saya cari, kebahagiaan abadi. Akhir cerita ini menurut saya masih menggantung tanpa ada satu kepastian yang jelas. Mohon maaf apabila ada salah2 kata. Assalamu'alaikum Wr.Wb

Selasa, 26 Juni 2012

Novel Resensi

Awal nya, setelah membaca novel ini, jujur saya merasa bingung, apakah saya akan mencoba kembali meresensi buku ini atau tidak, bukan karena tidak bisa, tapi dengan sebuah judul yang bagi saya "mengerikan" ada keraguan yang muncul ketika ingin mencoba membuka sedikit tentang novel ini. Novel kali ini adalah karangan Muhidin M Dahlan yang berjudul "Tuhan, izinkan aku menjadi pelacur! memoar Luka Seorang Muslimah". Bayangkan, bagaimana cerita buku ini sementara judulnya saja sudah seperti itu. Sebagai seorang muslim tentu hati ini juga miris ketika mendengar doa seorang manusia seperti itu, Oleh karena itu saya tidak akan menceritakan bagaimana alur cerita novel ini, saya hanya akan memberikan gambaran umum tentang buku ini. Banyak sekali kritikan terhadap novel ini, entah yang membangun atau pun yang secara keras tidak menyukai buku ini, ada yang menganggap buku ini melecehkan agama, bahkan banyak yang menganggapnya sampah, namun ada juga yang menganggap novel ini adalah sebagai pembongkar kemunafikan, cerminan diri ataupun hal-hal lain. Bagaimanapun dan yang manapun yang benar tentang semua pendapat itu, Wallahu a'lam. Sedikit menyinggung ceritanya. Novel ini bercerita tentang lika liku kehidupan seorang wanita muslimah dalam perjuangannya menuju kesempurnaan iman namun di tengah jalan dia mendapatkan berbagai macam cobaan.

Sabtu, 16 Juni 2012

LIBBY - NOVEL

Awal nya penasaran ketika liat kata-kata di buku ini yang bunyinya gini "rasa sukaku terhadap wanita tak akan seharga setipis selaput dara, aku bukan jenis lelaki egois yang harus mendapatkan bercak darah dari sebuah robekan di malam pertama". Siapa yang ga merinding baca kata-kata ini, artinya betapa setianya sang pria, dia cinta apa adanya, bukan ada apanya. Rasa penasaran itu berlanjut, kemana mau cari nii buku?

Sempat terfikir maau beli, tapi ga tau dimana orang jual, di gramed aja udah ga ada lagi. Ya, jodoh itu emang ga kemana kali ya, wkwkwk.. ternyata ada temen, nama panggilannya sih kalo buat aku si nunuy cemumut, dia anak LP3i banjarmasin.. dan yang membuatku bahagia, dia punya tu buku, dan dengan berbagai cara dan sesajen (dukun kali..) akhirnya ku dapatkan buku itu.

 Setelah selesai membaca buku yang berjumlah lebih dari 400 halaman itu, aku coba buat dikit me resensi buku itu di tulisan ku kali ini... Buku Libby karangan Langit Kresna Hariadi ini menceritakan seorang pria yang berkehidupan sangat mapan dikarenakan oleh harta warisan yang ditinggalkan oleh kakeknya. Namun hal itu tidak membuatnya bahagia, kenapa? karena dia dilahirkan dengan cara yang tidak sah dalam agama dan hukum. Ya, dia adalah seorang anak yang terlahir dari sebuah hubungan iseng antara dua manusia. Sejak saat itu, dia terus mencoba mencari sebuah jati diri sekaligus mencari pendamping hidup dengan melakukan sebuah penyamaran. Banyak ilmu yang dia peroleh dari perjalanannya, mulai dari bagimana cara belajar bertahan hidup, bagaimana cara bersabar, bagaimana cara membagi perasaan dan bagaimana cara berbagi serta mensyukuri kehidupan yang didapatnya saat ini.

 Keberanian nya mengambil keputusan-keputusan dengan perhitungan yang matang tanpa mengalami sebuah rasa takut juga menjadi sebuah motivasi bagi kita yang membaca nya, contohnya bagaimana sia berani memutuskan hubungan dengan seorang wanita kemudian berpaling ke wanita lain yang di diagnosa mempunyai penyakit HIV hingga mendapatkan kebahagiaan ataupun bagaimana cara dia memcat para anak buahnya dalam penyamaran nya itu.

Secara umum novel ini mengandung sebuah cerita yang penuh motivasi dan intrik kehidupan yang sepertinya sudah banyak merambah dunia kehidupan remaja saat ini. Tutur cerita yang disajikan penulis juga sangat bagus hingga membuat para pembaca ikut terbawa ke dalam dunia novel tersebut, membayang kan hal itu benar-benar terjadi di hadapannya. Namun sebagai manusia tidak ada hal yang sempurna, menurut saya ending dari cerita ini yang diharapkan menjadi klimaks dari semuanya tidak sesuai dengan harapan, namun apapun itu, tetaplah novel ini merupakan salah satu novel favorit saya setelah saya membacanya. (aboel. red)

Kamis, 14 Juni 2012

Read More .... - terimakasih

Ini merupakan pengalaman sekaligus pelajaran yang berharga ketika aku baru pertama kali kembali menjajaki dunia blogger. Ini dimulai ketika aku lagi bikin postingan-postingan buat blog aku, kemudian ga sengaja liat blog punya teman satu kost. Ada satu hal menarik yang bikin aku juga pengen buat blog ku kaya punya dia, "read more". Ya, artikel-artikel yang kumuat di blog q luar biasa panjang, ga ada sisi penasaran yang bisa ku timbulin ketika orang baca blog ku ini. Beda ketika kita liat ada tulisan read more itu tadi, paling tidak orang akan penasaran untuk membaca apa sih kelanjutan dari artikel yang ku posting.

Aku kemudian bertanya pada teman ku rizqan yang punya blog riemogerz.web.id . di blognya ternyata dia ada posting gimana cara membuat tulisan read more itu. Pertama liat, sangat senng rasanya bisa bikin kaya gitu juga, cuman pas lagi coba ngerjain, ternyata rumit juga, hahaha. jujur sempat bingung gimana cara ngerjainnya.

Entah karena faktor kasian atau karena tidak tega (sama aja kali ya...). Anak Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat yang juga merupakan salah satu penulis tetap di wikipedia ini membantu dengan cara yang sangat simpel. caranya cuman :

1. Masuk ke entri anda, kemudian edit entri yang anda inginkan
2. Pilih pada paragraf atau dimanapun anda ingin memotong postingan artikel anda.
3. Pada bagian itu tuliskan atau copas code ini &t;spanl class="fullpost"> . Kemudian pada bagian akhir     dari postingan anda copas lagi code ini </span>
4. Selamat mencoba

So, Thank you so much my friend :D

Rabu, 13 Juni 2012

Kemenangan Pertama STKIP B FC - BUPATI BATOLA CUP

Keinginan untuk membawa nama kampus STKIP PGRI Banjarmasin dalam bidang olahraga kembali dilakukan oleh para mahasiswa. Kemarin mereka mengikuti sebuah event pertandingan sepak bola yang bertajuk Bupati Batola CUP ke VIII yang dilaksanakan di kecamatan Tamban Km 6 ini diikuti oleh sebanyak 70 tim, dan 2 diantaranya adalah utusan dari Kampus ini.

Dengan dana dan persiapan yang sangat minim, tim ini tetap berangkat untuk menggapai kesuksesan, menempuh perjalanan yang memakan waktu sekitar 90 menit dari kampus dengan semangat menggebu-gebu para anak-anak muda ini berangkat. Sempat mengalami tragedi tersesat hingga hampir di diskualifikasi, STKIP B FC akhirnya tiba di tempat pelaksanaan pertandingan dan langsung bersiap-bersiap melakukan kick-off babak pertama demi membalaskan kekalahan yang telah dialami STKIP A FC.

Pertandingan yang dilaksanakan dalam tempo 2x30 menit ini berjalan monoton di karenakan lapangan yang tidak mendukung, genangan air dikarenakan hujan dan batu putih yang baru saja di letakkan kemudian diguyur hujan membuat lapangan kurang bersahabat dengan pemain, permainan pun hanya mengandalkan bola-bola atas, tidak banyak peluang yang tercipta alhasil hingga babak pertama berakhir kedudukan masih 0-0.

Di babak ke dua STKIP FC mengambil inisiatif menyerang, pada menit ke 14 babak ke dua, striker STKIP B Aulia menggiring bola masuk ke daerah pertahanan lawan, sempat terjadi kemelut, kemudian bola di oper kepada eza dan sang gelandang serang ini dengan sekali tembakan plessing ke pojok bawah kiri bawah gawang lawan yang tak mampu di halau oleh kiper lawan, gol pun tercipta. 1-0 untuk STKIP dan ternyata itu adalah gol satu-satunya di pertandingan itu.

Rasa kebahagiaan dan kebanggaan langsung menyeruak ketika peluit tanda berakhirnya pertandingan berbunyi, ucapan selamat pun datang kepada tim STKIP B ini, namun mereka tidak sumringah, "ini baru pertandingan pertama, masih banyak tim yang lebih bagus dari kami, oleh karena itu, bekerja keras dalam latihan pun harus terus ditingkatkan" kata kapten tim Unank yang juga merupakan perlatih di SMK Bina Banua Banjarmasin ini setelah pertandingan berakhir.

berikut beberapa foto para pemain dan manager tim ketika perjalanan dan setelah pertandingan berakhir(aboel.red)






Senin, 04 Juni 2012

makalah b. Inggris

How to Be a Good teacher

CHAPTER I
INTRODUCTION

Internal factors that influence on formation of national character of which is the direction of development of education. With education, human characters as individuals and as a society can be shaped and directed according to the ideal for the demands of the development process. Human character of this individual will contribute greatly to the formation of the character of the nation's dignity and a contributing factor to the process of accelerating the development of a nation.

A teacher would like to establish a climate of good communication with their students that students understand what is presented, and make learning a fun activity.
Many teachers in general give tips to students how to learn well. However, to inculcate and develop a good habit to learn is difficult. Teachers can not always force the students to make learning the habits they need to do every day. Moreover, if students already in their homes.
Teachers have a role and a very strategic position in national development, especially in education. The Act defined the teacher as professional educators with the primary task of educating, teaching, guiding, directing, train, assess and evaluate students. By emphasized as a professional job, automatic professionalism demands that the principle should be upheld and practiced by teachers, a teacher should have the qualifications, competence and a clear certification.
The teacher plays a very strategic, especially in shaping the national character and to develop students' potential. The presence of the teacher is not replaceable by other elements, especially in our multicultural society and multidimensional, where the role of technology to replace the duties of teachers is very minimal. Teachers have a crucial role in determining educational success. Professional teachers are expected to produce quality graduates. Professionalism of teachers as the spearhead in the implementation of the curriculum in the classroom that need attention (MONE, 2005). In teaching and learning, teachers have a duty to encourage, guide, and provide learning facilities for students to achieve goals. Teachers have a responsibility to see everything that happens in the classroom to assist in the development of students. Delivery of the subject matter is just one of many activities in learning as a dynamic process in all its phases and the development of students.
Once the importance of the role of teachers in the success of students then the teacher should be able to adapt to existing developments and enhance their competence for teachers at this time not only as teachers but also as manager of the learning process. In the whole process of education, teachers are the main factors that served as an educator. Teachers must take responsibility for children's learning activities through the interaction of teaching and learning. Teachers are factors that influence the success of the learning process and teachers must master the principles of learning in addition to mastering the material presented in other words, the teacher must create a best learning condition for students, this is classified as category of the teacher's role as a teacher. Besides the role as teacher, mentor teacher also serves as a means to provide assistance to individuals to achieve self-understanding and direction needed to make the maximum adjustment to school. This is in accordance with the opinion Oemar H (2002) who said the guidance is the process of providing assistance to individuals to achieve self-understanding and self-direction needed to make the adjustment to the maximum of the schools, families and communities.

CHAPTER II
PROBLEM SOLUTION


Every people in this world must get guidance in his life, in the home they have parents, and when they at school, teachers is parents for him, its means teachers is a guidance for every people when he or she at the school.
A teacher who becomes guidance must a good teacher and also must have some characteristic in order to be a good teacher. In this paper, I will tell you about some characteristic of good teacher. The first a teacher must love the job, the second a teacher must have some skills and the third a teacher must care with the students.
The first, we will talk about love the job, a teacher must love the job because when he or she love the job, they can make the lesson interest for students and then make students love the lesson. Teachers who have fed up or unhappy with what they are doing tend to have a negative effect on their students, because they put on a good teacher’s face when they enter the classroom.
The second, teachers must have some skills, this can make interesting the students to following the lesson, like mastered the material taught and competence, teaching well prepared and have a regular teaching organization, enthusiastic about the subject being taught, know name of students, can be an entertainer, and can talk with students. When teachers know name of students, of course they can call name of students to do something, a student who called the name maybe can be proudly and finally they will do what the order from teachers. Teachers also can be entertainer in the class, sometimes students will be fell bored in the class, and it’s the time teachers be an entertainer, students enjoy being entertained. However, a balance has to be struck between entertainments which often gives teachers enjoyable feedback and teaching and learning. Sometimes, the former can overwhelm the latter. And the important things, can talk with students, teachers must adapt their language to their students language like parents when they talk to their young children, it can make students understand with order from the teachers.
The third, teachers must care with student, Students can be approximated (approachable), friendly, open (available), Care about student progress, kind, sympathetic. When some students have trouble, teachers must be someone who can help the students quit from the troubles, the students also must be a motivator when he fined a student who has no spirit to study, and successful teachers are those people who can identify with the hopes, aspirations and difficulties of their students while they are teaching them.


CHAPTER III
CONCLUSION

Teacher is one who has a job as an educator who has a duty to educate individuals who are learning in school to become a useful person for the future. In conclusion, teachers is important people for students, because teachers is parents at the school, but don’t forget, teachers must have some characteristic like love her job, can talk with students, and also must care with students, and also must care with students to become a good teachers and then make students love they lesson and of course love the teachers.
A teacher should pay attention to the activities to be done, before that he must always be prepared and pay attention to what it must be carefully set up will be successful when activities are performed, except that a teacher must also be concerned with his students, whether they're in a problem or in the performance improvement

Minggu, 27 Mei 2012

HAUL KE 7 GURU SEKUMPUL

MARTAPURA - Boleh dikata, haulan ke-7 al-'Alim al-'Allamah al-Qutb ar-Rabbani wa al-Ghauts al-Fardani Syeikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul yang dilaksanakan di Kompleks Ar Raudhah Sekumpul, Martapura, Minggu (27/5) sebagai haulan yang terpadat dari segi jamaahnya. Dari beberapa sumber, dari nasi bungkus atau kotak yang diperkirakan menembus ratusan ribu, dapat ditaksir kalau pengunjung yang tidak hanya dari wilayah kalsel, bahkan dari wilayah seperti kalteng, kaltim, dan kalbar bahkan luar Kalimantan, jamaah acara haulan mencapai 300.000.

Sebelum acara dimulai, sekitar pulang 3 wita, sudah nampak para jamaah yang akan mengikuti event ini. Begitupun ketika sehabis ahsar, angkutan kendaraan sudah hamper tidak bisa lagi masuk ke dekat tempat acara, hingga akhirnya para jemaah banyak yang memutuskan untuk berjalan kaki menuju tempat-tempat yang sudah di sediakan panitia.

Ribuan jamaah menyesaki Gg Taufiq, akses terdekat ke kubah makam Guru Sekumpul. Puluhan petugas di depan pintu gerbang harus berperas keringat menahan arus jamaah yang berusaha masuk, meski area kubah sebenarnya sangat terbatas. "Maaf Pak, ini khusus untuk undangan saja. Di dalam terlalu sempit," kata seorang petugas setengah berteriak. Oleh karena itu, selepas ashar, para jamaah sudah menempati jalan-jalan dan rumah-rumah warga di gang-gang lingkungan langgar Ar Raudah ini untuk menggelar sajadah,berkumpul satu sama lain, menunggu azan magrib seraya mendengarkan rekaman ceramah dari Syeikh Muhammad Zaini bin Abdul Ghani atau Guru Sekumpul ini. Meski demikian, pelaksanaan haulan selepas maghrib berjalan dengan khidmat dan khusyuk.

Begitu shalat maghrib berjamaah yang dipimpin imam mushalla, Guru Sa'aduddin selesai, kemudian dilanjutkan lantunan ayat suci al-Qur'an, kemudian langsung pembacaan maulid Habsyi. Tampak di depan yang biasa dudukan almarhum, ditempati kedua anak almarhum, Muhammad Amin Badali dan Ahmad Hafi Badali. Di jejeran dekat kedua anak tersebut, ada sejumlah habaib dan para pejabat teras seperti Ketum Golkar Aburizal Bakrie, Gubernur Kalsel H Rudy Ariffin, Bupati Banjar Pangeran Khairul Saleh, mantan Wagub Rosehan NB dan para ulama terkemuka lainnya.

Selepas Yasin diteruskan dengan ritual tahlil yang ditingkahi dengan nasyid dzikir. Doa haul sekaligus doa penutup acara dipimpin Habib Abdurrahman. Barula kemudian jamaah shalat Isya, dan kegiatan ibadah di kawasan yang terkenal itu selesai.

Jumat, 25 Mei 2012

BEASISWA S2 DI JEPANG DARI PEMERINTAH,,,AYOOO

Ayo,,,siapa yang mau,,,ga bakalan rugi,,,beasiswa dari pemerintah nii,,,,
klik link ini,,ikuti syarat nya,,,siapa tau kamu akan jadi seorang yang sukses
http://www.id.emb-japan.go.jp/sch.html

Contoh Makalah dg judul KEPROFESIONALISME GURU DALAM PENINGKATAN MUTU PENDIDIKAN

BAB 1
PENDAHULUAN

Tuntutan terhadap lulusan dan layanan lembaga pendidikan yang bermutu semakin mendesak karena semakin ketatnya persaingan dalam lapangan kerja. Salah satu implikasi globalisasi dalam pendidikan yaitu adanya deregulasi yang memungkinkan peluang lembaga pendidikan asing membuka sekolahnya di Indonesia. Oleh karena itu persaingan antar lembaga penyelenggara pendidikan dan pasar kerja akan semakin berat. Mengantisipasi perubahan-perubahan yang begitu cepat serta tantangan yang semakin besar dan kompleks, tiada jalan lain bagi lembaga pendidikan kecuali hanya mengupayakan segala cara untuk meningkatkan daya saing lulusan serta produk-produk akademik dan layanan lainnya, yang antara lain dicapai melalui peningkatan mutu pendidikan.
Dalam tulisan ini dibahas tentang paradigma baru dalam pendidikan, apa dan mengapa mutu, etos kerja dan profesionalisme guru serta tantangan dunia pendidikan terkait dengan perkembangan teknologi informasi dan otonomi daerah/desentralisasi pendidikan.

PARADIGMA BARU
Untuk mencapai terselenggaranya pendidikan bermutu, dikenal dengan paradigma baru manajemen pendidikan yang difokuskan pada otonomi, akuntabilitas, akreditasi dan evaluasi. Keempat pilar manajemen ini diharapkan pada akhirnya mampu menghasilkan pendidikan bermutu (Wirakartakusumah, 1998).

1. Mutu
Mutu adalah suatu terminologi subjektif dan relatif yang dapat diartikan dengan berbagai cara dimana setiap definisi bisa didukung oleh argumentasi yang sama baiknya. Secara luas mutu dapat diartikan sebagai agregat karakteristik dari produk atau jasa yang memuaskan kebutuhan konsumen/pelanggan. Karakteristik mutu dapat diukur secara kuantitatif dan kualitatif. Dalam pendidikan, mutu adalah suatu keberhasilan proses dan hasil belajar yang menyenangkan dan memberikan kenikmatan.  Pelanggan bisa berupa mereka yang langsung menjadi penerima produk dan jasa tersebut atau mereka yang nantinya akan merasakan manfaat produk atau hasil dan jasa tersebut.

2. Otonomi
Pengertian otonomi dalam pendidikan belum sepenuhnya mendapatkan kesepakatan pengertian dan implementasinya. Tetapi paling tidak, dapat dimengerti sebagai bentuk pendelegasian kewenangan seperti dalam penerimaan dan pengelolaan peserta didik dan staf pengajar/staf non akademik, pengembangan kurikulum dan materi ajar, serta penentuan standar akademik. Dalam penerapannya di sekolah, misalnya, paling tidak bahwa guru/pengajar semestinya diberikan hak-hak profesi yang mempunyai otoritas di kelas, dan tak sekedar sebagai bagian kepanjangan tangan birokrasi di atasnya.

3. Akuntabilitas
Akuntabilitas diartikan sebagai kemampuan untuk menghasilkan output dan outcome yang memuaskan pelanggan. Akuntabilitas menuntut kesepadanan antara tujuan lembaga pendidikan tersebut dengan kenyataan dalam hal norma, etika dan nilai (values) termasuk semua program dan kegiatan yang dilaksanakannya. Hal ini memerlukan transparansi (keterbukaan) dari semua fihak yang terlibat dan akuntabilitas untuk penggunaan semua sumberdayanya.

4. Akreditasi
Akreditasi merupakan suatu pengendalian dari luar melalui proses evaluasi tentang pengembangan mutu lembaga pendidikan tersebut. Hasil akreditasi tersebut perlu diketahui oleh masyarakat yang menunjukkan posisi lembaga pendidikan yang bersangkutan dalam menghasilkan produk atau jasa yang bermutu. Pelaksanaan akreditasi dilakukan oleh suatu badan independen yang berwenang. Di Indonesia pelaksanaan akreditasi pendidikan untuk Perguruan Tinggi dilakukan oleh Badan Akreditasi Nasional (BAN) dan sekolah-sekolah menengah ke bawah oleh Badan Akreditasi Sekolah (BAS).

5. Evaluasi
Evaluasi adalah suatu upaya sistematis untuk mengumpulkan dan memproses informasi yang menghasilkan kesimpulan tentang nilai, manfaat, serta kinerja dari lembaga pendidikan atau unit kerja yang dievaluasi, kemudian menggunakan hasil evaluasi tersebut dalam proses pengambilan keputusan dan perencanaan. Evaluasi bisa dilakukan  secara internal atau eksternal. Suatu evaluasi akan lebih bermanfaat bila dilakukan secara berkesinambungan. Salah satu evaluasi terpenting dalam pendidikan adalah evaluasi diri (self evaluation) yang dilakukan bertahap dan terus menerus atas seluruh komponenkomponen pendidikan.




BAB 1I
ISI

Mutu adalah sifat dari benda dan jasa. Setiap orang selalu mengharapkan bahkan menuntut mutu dari orang lain, sebaliknya orang lain juga selalu mengharapkan dan menuntut mutu dari diri kita. Ini artinya, mutu bukanlah sesuatu yang baru, karena mutu adalah naluri manusia. Benda dan jasa sebagai produk dituntut mutunya, sehingga orang lain yang menggunakan puas karenanya. Dengan demikian, mutu adalah paduan sifat-sifat dari barang atau jasa, yang menunjukkan kemampuannya dalam memenuhi kebutuhan pelanggan, baik kebutuhan yang dinyatakan maupun yang tersirat. Benda dan jasa sebagai hasil kegiatan manusia yang secara sadar dilakukannya disebut “kinerja”. Kinerja itulah yang dituntut mutunya, sehingga muncul istilah “mutu kinerja manusia”. Suatu kinerja disebut bermutu jika dapat menemuhi atau melebihi kebutuhan dan harapan pelanggannya. Oleh karena itu, maka suatu produk atau jasa sebagai kinerja harus dibuat sedemikian rupa agar dapat memenuhi kebutuhan dan harapan pelanggannya.
Dalam pembicaraan tentang mutu, terdapat unsur-unsur yang terkait, yaitu: produk dan jasa, penghasil produk/jasa, pelanggan, kebutuhan dan harapan, produk/jasa yang bermutu dan kepuasan. Produk dan jasa adalah hasil yang diproduksi karena ada yang memerlukan. Orang yang membuat produk atau jasa disebut penghasil produk/jasa, sedangkan orang yang memerlukan produk/jasa itu disebut pelanggan. Adapun kebutuhan dan harapan adalah cerminan dari apa saja yang diharapkan atau dibutuhkan oleh pelanggan dari pihak penghasil produk/jasa. Adanya produk/jasa yang disebut bermutu bila dapat memenuhi atau bahkan melebihi dari sekedar kebutuhan dan harapan pelanggan/ penggunanya, yang ditandai dengan kepuasan.
Ciri-ciri mutu (sebagai bentuk pelayanan pelanggan) ditandai dengan: (1) ketepatan waktu pelayanan, (2) akurasi pelayanan, (3) kesopanan dan keramahan (unsure menyenangkan pelanggan), (4) bertanggung jawab atas segala keluhan (complain) pelanggan, (5) kelengkapan pelayanan, (6) kemudahan mendapatkan pelayanan, (7) variasi layanan, (8) pelayanan pribadi, (9) kenyamanan, (10) dan ketersediaan atribut pendukung (Slamet, 1999).
Setiap produk/jasa yang bermutu memberikan pelayanan tepat waktu seperti yang disepakati dengan pelanggan. Kemoloran atau tertundanya waktu dari yang telah disepakati menjadi cacat mutu karena cidera janji. Akurasi pelayanan atau ketepatan produk/jasa seperti yang diminta atau dipesan oleh pelanggan juga merupakan salah satu dari ciri mutu pelayanan. Kesalahan atau kemelencengan dari apa yang dipesan, menyebabkan produk/jasa tersebut tidak bermanfaat bahkan mendatangkan kerugian bagi pelanggan. Untuk itu menjadi penting melakukan proses pendefisian kebutuhan pelanggan sebelum proses produksi/layanan dilakuan. Setiap pelayanan yang bermutu harus menyenangkan pelanggan, sehingga kesopanan dan keramah-tamahan dalam berkomunikasi dengan pelanggan menjadi unsur penting untuk menjaga mutu. Ungkapan sehari-hari dalam dunia bisnis: “pembeli adalah raja” maksudnya adalah berusaha menyenangkan pembeli agar kembali lagi untuk membeli di kesempatan lain.
Setiap penghasil produk/jasa harus berani bertanggung jawab atas segala yang telah diperbuatnya, ia harus mempertanggung jawabkan atas segala resiko yang diakibatkan oleh pekerjaan itu. Semua yang menjadi keluhan (complain) pelanggan harus dipertanggung jawabkan, jika produk tidak sesuai dengan yang dipesan/dibutuhkan sesuai janji kesepakatan sebelumnya, maka ia harus bertanggung jawab untuk menggantinya. Sebagai penghasil produk/jasa haruslah selengkap mungkin menyediakan sarana dan kemampuan yang diperlukan oleh pelanggan. Ini artinya, bahwa penghasil produk/jasa haruslah profesional dan kompeten dengan bidangnya. Selain itu, sebagai penghasil produk/jasa haruslah memberikan kemudahan kepada pelanggan untuk mendapatkan produk/jasa tersebut, baik yang berhubungan dengan waktu, tempat, atau kemudahan menjangkaunya.
Bentuk pelayanan hendaknya juga bervariasi, sehingga banyak pilihan bagi pelanggan. Inovasi haruslah digalakkan sehingga banyak temuan untuk menunjang variasi layanan tersebut. Sedapat mungkin pelayanan bersifat pribadi lebih ditonjolkan, sehingga tidak terkesan kaku, fleksibel dan terkesan ada penanganan khusus bagi pelanggan. Kenyamanan pelayanan harus pula diciptakan, misalnya berhubungan dengan lokasi/ruangan, fasilitas pelayanan yang memadai seperti petunjuk-petunjuk yang mudah dikenali oleh pelanggan, dan ketersediaian informasi yang dibutuhkan oleh pelanggan. Peranan atribut pendudukung seperti lingkungan yang nyaman, kebersihan yang standar, ruangan ber AC, ruang tunggu dan lain-lain yang bersifat penunjang sangat diperlukan bagi suksesnya pelayanan mutu. Oleh karena itu perlu diperhatikan. Konsep mutu sebenarnya selain bersifat absolut juga bersifat relatif dari pelanggannya.
Mutu yang bersifat absolut menunjuk pada suatu produk/jasa yang standar tertentu, dipatok dengan ukuran tertentu oleh suatu lembaga yang memiliki otonomi untuk itu. Mutu suatu produk/jasa yang bersifat relatif berarti tergantung pada konsumennya/pelanggannya bagaimana mereka menetapkan standar kebutuhan dan harapannya.
Mengapa produk/jasa harus bermutu? Dalam persaingan bebas kita seharusnya berorientasi pada kebutuhan dan harapan konsumen atau pelanggan (customers). Jika produk/layanan hasil kinerja kita tidak bermutu, maka customers akan meninggalkan kita, karena ada alternatif lain yang bisa dipilih oleh mereka. Jika penghasil produk/jasa ingin tetap berlangsung usahanya (dipakai oleh customers), maka ia harus menjaga mutu bahkan meningkatkan mutu produk/jasa layanannya seiring dengan tuntutan kebutuhan dan harapan customers. Adapun sifat-sifat pokok mutu jasa, menurut Slamet (1999) adalah mengadung unsur-unsur: (1) keterpercayaan (reliability), (2) keterjaminan (assurance), (3) penampilan (tangibility), (4) perhatian (emphaty), dan (5) ketanggapan (responsiveness). Keterpercayaan dapat dihasilkan dari sikap dan tindakan seperti: jujur, tepat waktu pelayanan, terjaminnya rasa aman dengan produk/jasa yang dipergunakan/diperoleh, dan ketersediaan produk/jasa saat dibutuhkan pelanggan. Keterjaminan suatu mutu jasa dapat ditimbulkan oleh kondisi misalnya penghasil produk/jasa memang kompeten dalam bidangnya, obyektif dalam pelayanannya, tampil dengan percaya diri dan meyakinkan pelanggannya.
Penampilan adalah sosok dari produk/jasa dan hasil karyanya. Misalnya bersih, sehat, teratur dan rapi, enak dipandang, serasi, berpakaian rapi dan harmonis, dan buatannya baik. Empati adalah berusaha merasakan apa yang dialami oleh pelanggan (“seandainya saya dia”). Cara berempati dapat dinyatakan dengan penuh perhatian terhadap pelanggan, melayani dengan ramah dan memuaskan, memahami keinginan pelanggan, berkomunikasi dengan baik dan benar, dan bersikap penuh simpati. Adapun ketanggapan adalah ungkapan cepat tanggap dan perhatian terhadap keluhan pelanggan. Ungkapan tersebut dapat dinyatakan dengan cepat memberi respon pada permintaan pelanggan dan cepat memperhatikan dan mengatasi keluhan pelanggan. Dalam kerangka manajemen pengembangan mutu terpadu, usaha pendidikan tidak lain adalah merupakan usaha “jasa” yang memberikan pelayanan kepada pelangggannya yang utamanya yaitu kepada mereka yang belajar dalam lembaga pendidikan tersebut.
Para pelanggan layanan pendidikan dapat terdiri dari berbagai unsur paling tidak empat kelompok (Sallis, 1993). Mereka itu adalah pertama yang belajar, bisa merupakan mahasiswa/pelajar/murid/peserta belajar yang biasa disebut klien/pelanggan primer (primary external customers). Mereka inilah yang langsung menerima manfaat layanan pendidikan dari lembaga tersebut. Kedua, para klien terkait dengan orang yang mengirimnya ke lembaga pendidikan, yaitu orang tua atau lembaga tempat klien tersebut bekerja, dan mereka ini kita sebut sebagai pelanggan sekunder (secondary external customers). Pelanggan lainnya yang ketiga bersifat tersier adalah lapangan kerja, bisa pemerintah maupun masyarakat pengguna output pendidikan (tertiary external customers). Selain itu, yang keempat, dalam hubungan kelembagaan masih terdapat pelanggan lainnya yaitu yang berasal dari intern lembaga; mereka itu adalah para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi lembaga pendidikan, serta pimpinan lembaga pendidikan (internal customers). Walaupun para guru/dosen/tutor dan tenaga administrasi, serta pimpinan lembaga pendidikan tersebut terlibat dalam proses pelayanan jasa, tetapi mereka termasuk juga pelanggan jika dilihat dari hubungan manajemen. Mereka berkepentingan dengan lembaga tersebut untuk maju, karena semakin maju dan berkualitas dari suatu lembaga pendidikan mereka akan diuntungkan, baik kebanggaan maupun finansial (Karsidi, 2000).
Seperti disebut diatas bahwa program peningkatan mutu harus berorientasi kepada kebutuhan/harapan pelanggan, maka layanan pendidikan suatu lembaga haruslah memperhatikan kebutuhan dan harapan masing-masing pelanggan diatas. Kepuasan dan kebanggaan dari mereka sebagai penerima manfaat layanan pendidikan harus menjadi acuan bagi program peningkatan mutu layanan pendidikan.

ETOS KERJA DAN PROFESIONALISME GURU
Profesi diukur berdasarkan kepentingan dan tingkat kesulitan yang dimiliki. Dalam dunia keprofesian kita mengenal berbagai terminologi kualifikasi profesi yaitu: profesi, semi profesi, terampil, tidak terampil, dan quasi profesi.
Gilley dan Eggland (1989) mendefinisikan profesi sebagai bidang usaha manusia berdasarkan pengetahuan, dimana keahlian dan pengalaman pelakunya diperlukan oleh masyarakat. Definisi ini meliputi aspek yaitu :
a. Ilmu pengetahuan tertentu
b. Aplikasi kemampuan/kecakapan, dan
c. Berkaitan dengan kepentingan umum
Aspek-aspek yang terkandung dalam profesi tersebut juga merupakan standar pengukuran profesi guru. Proses profesional adalah proses evolusi yang menggunakan pendekatan organisasi dan sistemastis untuk mengembangkan profesi ke arah status professional (peningkatan status). Secara teoritis menurut Gilley dan Eggland (1989) pengertian professional dapat didekati dengan empat prespektif pendekatan yaitu orientasi filosofis, perkembangan bertahap, orientasi karakteristik, dan orientasi non-tradisonal.

1. Orientasi Filosofi
Ada tiga pendekatan dalam orientasi filosofi, yaitu pertama lambang keprofesionalan adalah adanya sertifikat, lissensi, dan akreditasi. Akan tetapi penggunaan lambang ini tidak diminati karena berkaitan dengan aturan-aturan formal. Pendekatan kedua yang digunakan untuk tingkat keprofesionalan adalah pendekatan sikap individu, yaitu pengembangan sikap individual, kebebasan personal, pelayanan umum dan aturan yang bersifat pribadi. Yang penting bahwa layanan individu pemegang profesi diakui oleh dan bermanfaat bagi penggunanya. Pendekatan ketiga: electic, yaitu pendekatan yang menggunakan prosedur, teknik, metode dan konsep dari berbagai sumber, sistim, dan pemikiran akademis. Proses profesionalisasi dianggap merupakan kesatuan dari kemampuan, hasil kesepakatan dan standar tertentu. Pendekatan ini berpandangan bahwa pandangan individu tidak akan lebih baik dari pandangan kolektif yang disepakati bersama. Sertifikasi profesi memang diperlukan, tetapi tergantung pada tuntutan penggunanya.

2. Orientasi Perkembangan
Orientasi perkembangan menekankan pada enam langkah pengembangan
profesionalisasi, yaitu:
a)      Dimulai dari adanya asosiasi informal individu-individu yang memiliki minat terhadap profesi.
b)      Identifikasi dan adopsi pengetahuan tertentu.
c)      Para praktisi biasanya lalu terorganisasi secara formal pada suatu lembaga.
d)     Penyepakatan adanya persyaratan profesi berdasarkan pengalaman atau kualifikasi tertentu.
e)      Penetuan kode etik.
f)       Revisi persyaratan berdasarkan kualifikasi tertentu (termasuk syarat akademis) dan pengalaman di lapangan.
3. Orientasi Karakteristik
Profesionalisasi juga dapat ditinjau dari karakteristik profesi/pekerjaan. Ada delapan karakteristik pengembangan profesionalisasi, satu dengan yang lain saling terkait:
a)      Kode etik
b)      Pengetahuan yang terorganisir
c)      Keahlian dan kompetensi yang bersifat khusus
d)     Tingkat pendidikan minimal yang dipersyaratkan
e)      Sertifikat keahlian
f)       Proses tertentu sebelum memangku profesi untuk bisa memangku tugas dan tanggung jawab
g)      Kesempatan untuk penyebarluasan dan pertukaran ide di antara anggota profesi
h)      Adanya tindakan disiplin dan batasan tertentu jika terjadi malpraktek oleh anggota profesi



4. Orientasi Non-Tradisional
Perspektif pendekatan yang keempat yaitu prespektif non-tradisonal yang menyatakan bahwa seseorang dengan bidang ilmu tertentu diharapkan mampu melihat dan merumuskan karakteristik yang unik dan kebutuhan dari sebuah profesi. Oleh karena itu perlu dilakukan identifikasi elemen-elemen penting untuk sebuah profesi, misalnya termasuk pentingnya sertifikasi professional dan perlunya standarisasi profesi untuk menguji kelayakannya dengan kebutuhan lapangan. Tentu saja, pekerjaan guru tidak diragukan untuk dapat dikatakan sebagai profesi pendidikan dan pengajaran. Namun, hingga kini “pekerjaan untuk melakukan pendidikan dan pengajaran” ini masih sering dianggap dapat dilakukan oleh siapa saja. Inilah tantangan bagi profesi guru. Paling tidak hal ini masih sering terjadi di lapangan.
Profesionalisme guru perlu didukung oleh suatu kode etik guru yang berfungsi sebagai norma hukum dan sekaligus sebagai norma kemasyarakatan. Kelembagaan profesi guru (seperti PGRI) sangat diperlukan untuk menghindari terkotak-kotaknya guru karena alasan struktur birokratisasi atau kepentingan politik tertentu. Profesionalisme guru harus didukung oleh kompetensi yang standar yang harus dikuasai oleh para guru profesional. Kompetensi tersebut adalah pemilikan kemampuan atau keahlian yang bersifat khusus, tingkat pendidikan minimal, dan sertifikasi keahlian haruslah dipandang perlu sebagai prasarat untuk menjadi guru profesional. Menurut Surya (2003) guru yang profesional harus menguasai keahlian dalam kemampuan materi keilmuan dan ketrampilan metodologi. Guru juga harus memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi atas pekerjaannya baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, bangsa dan negara, lembaga dan organisasi profesi. Selain itu, guru juga harus mengembangkan rasa kesejawatan yang tinggi dengan sesama guru. Disinilah peran Perguruan Tinggi Pendidikan dan organisasi profesi guru (seperti PGRI) sangat penting. Kerjasama antar keduanya menjadi sangat diperlukan. Lembaga Pendidikan dalam memproduk guru yang profesional tidak dapat berjalan sendiri, kecuali selain harus bekerjasama dengan lembaga profesi guru, dan sebaliknya. Untuk itu, maka pengembangan profesionalisme guru juga harus mempersyaratkan hidup dan berperanannya organisasi profesi guru tenaga kependidikan lainnya yang mampu menjadi tempat terjadinya penyebarluasan dan pertukaran ide diantara anggota dalam menjaga kode etik dan pengembangan profesi masing-masing. Orientasi mutu, profesionalisme dan menjunjung tinggi profesi harus mampu menjadi etos kerja guru. Untuk itu maka, kode etik profesi guru harus pula ditegakkan oleh anggotanya dan organisasi profesi guru harus pula dikembangkan kearah memiliki otoritas yang tinggi agar dapat mengawal profesi guru tersebut.

TANTANGAN PROFESI GURU
(1) Perkembangan Teknologi Informasi
Dalam rangka meningkatkan profesionalisme guru, terjadinya revolusi teknologi informasi merupakan sebuah tantangan yang harus mampu dipecahkan secara mendesak. Adanya perkembangan teknologi informasi yang demikian akan mengubah pola hubungan guru-murid, teknologi instruksional dan sistem pendidikan secara keseluruhan. Kemampuan guru dituntut untuk menyesuaikan hal demikian itu. Adanya revolusi informasi harus dapat dimanfaatkan oleh bidang pendidikan sebagai alat mencapai tujuannya dan bukan sebaliknya justru menjadi penghambat. Untuk itu, perlu didukung oleh suatu kehendak dan etika yang dilandasi oleh ilmu pendidikan dengan dukungan berbagai pengalaman para praktisi pendidikan di lapangan.
Perkembangan teknologi (terutama teknologi informasi) menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan mulai bergeser. Sekolah tidak lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu. Peran guru juga tidak akan menjadi satu-satunya sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi yang mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar. Wen (2003) seorang usahawan teknologi mempunyai gagasan mereformasi system pendidikan masa depan. Menurutnya, apabila anak diajarkan untuk mampu belajar sendiri, mencipta, dan menjalani kehidupannya dengan berani dan percaya diri atas fasilitasi lingkungannya (keluarga dan masyarakat) serta peran sekolah tidak hanya menekankan untuk mendapatkan nilai-nilai ujian yang baik saja, maka akan jauh lebih baik dapat menghasilkan generasi masa depan. Orientasi pendidikan yang terlupakan adalah bagaimana agar lulusan suatu sekolah dapat cukup pengetahuannya dan kompeten dalam bidangnya, tapi juga matang dan sehat kepribadiannya. Bahkan konsep tentang sekolah di masa yang akan datang, menurutnya akan berubah secara drastis. Secara fisik, sekolah tidak perlu lagi menyediakan sumber-sumber daya yang secara tradisional berisi bangunan-bangunan besar, tenaga yang banyak dan perangkat lainnya. Sekolah harus bekerja sama secara komplementer dengan sumber belajar lain terutama fasilitas internet yang telah menjadi “sekolah maya”.
Bagaimanapun kemajuan teknologi informasi di masa yang akan datang, keberadaan sekolah tetap akan diperlukan oleh masyarakat. Kita tidak dapat menghapus sekolah, karena dengan alasan telah ada teknologi informasi yang maju. Ada sisi-sisi tertentu dari fungsi dan peranan sekolah yang tidak dapat tergantikan, misalnya hubungan guru-murid dalam fungsi mengembangkan kepribadian atau membina hubungan sosial, rasa kebersamaan, kohesi sosial, dan lain-lain. Teknologi informasi hanya mungkin menjadi pengganti fungsi penyebaran informasi dan sumber belajar atau sumber bahan ajar. Bahan ajar yang semula disampaikan di sekolah secara klasikal, lalu dapat diubah menjadi pembelajaran yang diindividualisasikan melalui jaringan internet yang dapat diakses oleh siapapun dari manapun secara individu. (Karsidi, 2004) Inilah tantangan profesi guru. Apakah perannya akan digantikan oleh teknologi informasi, atau guru yang memanfaatkan teknologi informasi untuk menunjang peran profesinya.
Dunia pendidikan harus menyiapkan seluruh unsur dalam sistim pendidikan agar tidak tertinggal atau ditinggalkan oleh perkembangan teknologi informasi tersebut. Melalui penerapan dan pemilihan teknologi informasi yang tepat (sebagai bagian dari teknologi pendidikan), maka perbaikan mutu yang berkelanjutan dapat diharapkan. Perbaikan yang berlangsung terus menerus secara konsisten/konstan akan mendorong orientasi pada perubahan untuk memperbaiki secara terus menerus dunia pendidikan. Adanya revolusi informasi dapat menjadi tantangan bagi lembaga pendidikan karena mungkin kita belum siap menyesuaikan. Sebaliknya, hal ini akan menjadi peluang yang baik bila lembaga pendidikan mampu menyikapi dengan penuh keterbukaan dan berusaha memilih jenis teknologi informasi yang tepat, sebagai penunjang pencapaian mutu pendidikan.
Pemilihan jenis media sebagai bentuk aplikasi teknologi dalam pendidikan harus dipilih secara tepat, cermat dan sesuai kebutuhan, serta bermakna bagi peningkatan mutu pendidikan kita.
(2) Otonomi Daerah dan Desentralisasi Pendidikan
Kini, paradigma pembangunan yang dominan telah mulai bergeser ke paradigm desentralistik. Sejak diundangkan UU No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah maka menandai perlunya desentralisasi dalam banyak urusan yang semula dikelola secara sentralistik. Menurut Tjokroamidjoyo (dalam Jalal dan Supriyadi, 2001), bahwa salah satu tujuan dari desentralisasi adalah untuk meningkatkan pengertian rakyat serta dukungan mereka dalam kegiatan pembangunan dan melatih rakyat untuk dapat mengatur urusannya sendiri. Ini artinya, bahwa kemauan berpartisipasi masyarakat dalam pembangunan (termasuk dalam pengembangan pendidikan) harus ditumbuhkan dan ruang partisipasi perlu dibuka selebar-lebarnya.
Bergesernya paradigma pembangunan yang sentralistik ke desentralistik telah mengubah cara pandang penyelenggara negara dan masyarakat dalam penyelenggaraan pembangunan. Pembangunan harus dipandang sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat itu sendiri dan bukan semata kepentingan negara. Pembangunan seharusnya mengandung arti bahwa manusia ditempatkan pada posisi pelaku dan sekaligus penerima manfaat dari proses mencari solusi dan meraih hasil pembangunan untuk dirinya dan lingkungannya dalam arti yang lebih luas. Dengan demikian, masyarakat harus mampu meningkatkan kualitas kemandirian mengatasi masalah yang dihadapinya, baik secara individual maupun secara kolektif.
Belajar dari pengalaman bahwa ketika peran pemerintah sangat dominan dan peranserta masyarakat hanya dipandang sebagai kewajiban, maka masyarakat justru akan terpinggirkan dari proses pembangunan itu sendiri. Penguatan partisipasi masyarakat haruslah menjadi bagian dari agenda pembangunan itu sendiri, lebih-lebih dalam era globalisasi. Peranserta masyarakat harus lebih dimaknai sebagai hak daripada sekadar kewajiban. Kontrol rakyat (anggota masyarakat) terhadap isi dan prioritas agenda pengambilan keputusan pembangunan harus dimaknai sebagai hak masyarakat untuk ikut mengontrol agenda dan urutan prioritas pembangunan bagi dirinya atau kelompoknya. (Karsidi, 2004)
Desentralisasi adalah penyerahan sebagian otoritas pemerintah pusat ke daerah, untuk mendistribusikan beban pemerintah pusat ke daerah sehingga daerah dan masyarakatnya ikut menanggung beban tersebut. Tujuannya adalah: (1) mengurangi beban pemerintah pusat dan campur tangan tentang masalah-masalah kecil di tingkat lokal, (2) meningkatkan partisipasi masyarakat, (3) menyusun program-program perbaikan pada tingkat lokal yang lebih realistik, (4) melatih rakyat mengatur urusannya sendiri, (5) membina kesatuan nasional yang merupakan motor penggerak memberdayakan daerah. Dalam desentralisasi pendidikan, pemerintah pusat lebih berperan dalam menghasilkan kebijaksanaan mendasar (menetapkan standar mutu pendidikan secara nasional), sementara kebijaksanaan operasional yang menyangkut variasi keadaan daerah didelegasikan kepada pejabat daerah bahkan sekolah.
Kurikulum dan proses pendidikan dalam kerangka otonomi daerah, ada bagian yang perlu dibakukan secara nasional, tetapi hanya terbatas pada beberapa aspek pokok, yaitu: (1) Substansi pendidikan yang berada dibawah tanggungjawab pemerintah, seperti PKN, Sejarah Nasional, Pendidikan Agama, dan Bahasa Indonesia; (2) Pengendalian mutu pendidikan, berdasarkan standar kompetensi minimum; (3) Kandungan minimal konten setiap bidang studi, khususnya yang menyangkut ilmu-ilmu dasar; (4) Standarstandar teknis yang ditetapkan berdasarkan standar mutu pendidikan. Program-program pembelajaran di sekolah berupa desain kurikulum dan pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan nonkurikuler sampai pada pengadaan kebutuhan sumber daya untuk suatu sekolah agar dapat berjalan lancar, tampaknya harus sudah mulai diberikan ruang partisipasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan. Demikian pula di lembaga-lembaga pendidikan lainnya nonsekolah, ruang partisipasi tersebut harus dibuka lebar agar tanggung jawab pengembangan pendidikan tidak tertumpu pada lembaga pendidikan itu sendiri, lebih-lebih pada pemerintah sebagai penyelenggara negara.
Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan berbagai variasi cara sesuai dengan kondisi masing-masing wilayah atau komunitas tempat masyarakat dan lembaga pendidikan itu berada. Kondisi ini menuntut kesigapan para pemegang kebijakan dan manajer pendidikan untuk mendistribusi peran dan kekuasaannya agar bias menampung sumbangan partisipasi masyarakat. Sebaliknya, dari pihak masyarakat (termasuk orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat) juga harus belajar untuk kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan. Sebagai contoh tentang partisipasi dunia usaha/industri pada era otonomi daerah. Mereka tidak bisa tinggal diam menunggu dari suatu lembaga pendidikan/sekolah sampai dapat meluluskan alumninya, lalu menggunakannya jika menghasilkan output yang baik dan mengkritiknya jika terdapat output yang tidak baik. Partisipasi dunia usaha/industry terhadap lembaga pendidikan harus ikut bertanggung jawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai dengan rumusan harapan bersama. Demikian juga kelompok-kelompok masyarakat lain, termasuk orang tua siswa. Dengan cara seperti itu, maka mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan akan menjadi tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan dan komponen-komponen lainnya di masyarakat.



BAB III
PENUTUP

Dalam rangka mencapai mutu yang tinggi dalam bidang pendidikan, peranan guru sangatlah penting bahkan sangat utama. Untuk itu, maka profesionalisme guru harus ditegakkan dengan cara pemenuhan syarat-syarat kompetensi yang harus dikuasai oleh setiap guru, baik di bidang penguasaan keahlian materi keilmuan maupun metodologi. Guru harus bertanggungjawab atas tugas-tugasnya dan harus mengembangkan kesejawatan dengan sesama guru melalui keikutsertaan dan pengembangan organisasi profesi guru. Untuk mencapai kondisi guru yang profesional, para guru harus menjadikan orientasi mutu dan profesionalisme guru sebagai etos kerja mereka dan menjadikannya sebagai landasan orientasi berperilaku dalam tugas-tugas profesinya. Karenanya, maka kode etik profesi guru harus dijunjung tinggi
Dalam perkembangannya, disadari bahwa profesi guru belum dalam posisi yang ideal seperti yang diharapkan, namun harus terus diperjuangkan menuju yang terbaik. Pada saat diberlakukannya otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan yang bersamaan dengan tumbuh dan berkembangnya teknologi informasi yang sangat pesat, dipahami bahwa banyak tantangan sekaligus peluang yang harus dihadapi untuk dapat diselesaikan oleh para guru dan lembaga penyelenggara pendidikan. Tantangan dan peluang tersebut antara lain: berubahnya peran guru dalam manajemen proses belajar mengajar, kurikulum yang terdesentralisasi, pemanfaatan secara optimal sumber-sumber belajar lain dan teknologi informasi, usaha pencapaian layanan mutu pendidikan yang optimal, dan penegakan profesionalisme guru. Para guru mempunyai tantangan untuk dapat beradaptasi dengan sebaik-baiknya dalam situasi transisi, agar dapat memperkecil dampak negatif dan memperbesar dampak positifnya. Menyikapi hal-hal demikian, tidak lain maka para guru haruslah dapat mengembangkan suatu perilaku adaptif agar berhasil mengemban profesinya di era otonomi daerah dan era global ini. Dengan cara demikian, karena guru adalah “soko guru” pendidikan, mudah-mudahan peningkatan mutu pendidikan di era otonomi daerah segera akan tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

-----, 2004. Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat dalam PengembanganPendidikan di Indonesia.

Sallis, Edward. 1993. Total Quality Management in Education, Kogam Page, London.

Slamet, Margono, 1999. Filosofi Mutu dan Penerapan Prinsip-Prinsip Manajemen Mutu Terpadu, IPB Bogor.

Surya, Muhammad. 2003. Percikan Perjuangan Guru. Semarang: Aneka Ilmu.

Wen, Sayling. 2003. Future of Education (Masa Depan Pendidikan), alih bahasa Arvin Saputra, Batam: Lucky Publisher.

Awalnya, ga tau juga kenapa jadi pengen nulis di blog, ga tau terinspirasi dari siapa,,,ya, keinginan itu mendadak muncul aja di fikiran, ga salah kan ?
Melalui blog ini, sebenarnya saya hanya ingin berbagi, entah itu berbagi ilmu, cerita, ataupun berbagi hal-hal menarik yang pernah saya alami, dengan harapan mampu untuk menambah pengetahuan dan wawasan kita semua, semoga... Amin